Festival Sisindiran Sunda 2026: Merawat Budaya dan Bahasa lewat Rarakitan, Paparikan, dan Wawangsalan

Cimahi, 9 Oktober 2026 –
Pergelaran puncak Festival Sisindiran Sunda
resmi diselenggarakan pada Jumat, 9 Oktober 2026 di Techno Park Cimahi, dengan
mengusung moto “Rarakitan, Paparikan, Wawangsalan”.

Salah satu penampilan Sisindiran di panggung

Festival ini menjadi salah satu upaya menjaga, menghidupkan,
dan mewariskan kekayaan sastra Sunda kepada generasi penerus.

Pergelaran tersebut merupakan puncak dari rangkaian kegiatan
yang telah berlangsung sejak Maret 2026. Sejumlah agenda
sebelumnya meliputi lokakarya sisindiran,
lomba sisindiran tingkat SMP dan SMA,
serta program Kiwariwall Sisindiran yang
dipublikasikan melalui media sosial dan YouTube agar dapat
diakses oleh masyarakat luas.

Diena San Fauziya, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Siliwangi

Dalam penjelasannya, Diena menekankan bahwa
pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan
mempertahankan tradisi lama. Menurutnya, tradisi juga perlu
diberi ruang untuk terus hidup dan berkembang mengikuti
perubahan zaman.

Melalui festival ini, sisindiran diharapkan tidak hanya
dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai
sarana kreativitas, pendidikan karakter, dan ekspresi
budaya yang tetap relevan dengan kehidupan modern.

Diena turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
atas dukungan melalui Dana Indonesiana LPDP.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh mitra,
dewan pengarah, narasumber, panitia, guru pendamping, serta
peserta yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan
festival.

Syifa Nurjamilah, Mahasiswi IKIP Siliwangi selaku ketua pelaksana

Sementara itu, Ketua Pelaksana
Syifa Nurjamilah menjelaskan bahwa
agenda puncak festival diisi dengan penyerahan penghargaan
kepada para pemenang lomba, termasuk kategori SMA.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penampilan
Keluarga Seni Sastra Indonesia dan
Tim Sastra Pradangga.

Syifa berharap Festival Sisindiran Sunda dapat menjadi
ruang bersama yang mempertemukan unsur
pendidikan, seni, dan budaya.
Menurutnya, festival ini tidak seharusnya berhenti
sebagai pertunjukan di atas panggung, tetapi perlu
menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk
menjaga keberagaman budaya dan kelestarian bahasa Sunda.

Dengan melibatkan pelajar, pendidik, seniman, dan masyarakat,
Festival Sisindiran Sunda diharapkan mampu memperkuat
keberlangsungan tradisi sastra lisan sekaligus membuka
ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan
sisindiran di tengah perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *